Pesawat berbahan bakar hidrogen milik Universal Hydrogen

Pesawat Berbahan Bakar Hidrogen Membuka Jalan Menuju Industri Penerbangan yang Berkelanjutan

Pesawat berbahan bakar hidrogen semakin dilirik sebagai alternatif yang menjanjikan dalam upaya mencapai industri penerbangan yang lebih berkelanjutan. Meskipun sejauh ini masih dalam tahap awal pengembangan, hasil uji coba penerbangan yang sukses dilakukan tentu akan memberi wawasan yang berharga untuk kelanjutan pengembangannya di masa depan.

Berdasarkan laporan Canary Media, dua startup asal California baru-baru ini telah sukses melakukan berbagai uji coba penerbangan untuk pesawat eksperimental dengan sel bahan bakar gas hidrogen. Kedua perusahaan sama-sama membuat prototipenya dengan melakukan retrofitting pada pesawat bermesin turboprop dan mengintegrasikan teknologi bahan bakar hidrogen, hanya saja dengan pendekatan yang sedikit berbeda untuk mencapai tujuan yang spesifik.

Salah satu prototipe yang dimaksud adalah pesawat Dash 8 milik Universal Hydrogen yang memiliki kapasitas 40 penumpang. Pesawat ini menggabungkan mesin jet orisinal dengan sel bahan bakar hidrogen berdaya 1,2 megawatt dan motor listrik 800 kilowatt. Performa yang ditunjukkan tergolong mengesankan, sebab Dash 8 mampu terbang sebanyak sembilan kali dengan ketinggian mencapai 10.000 kaki dan kecepatan melebihi 170 knot.

Prototipe satunya adalah Dornier 228, pesawat berkapasitas 19 kursi yang dimodifikasi oleh ZeroAvia. Sejauh ini, Dornier 228 telah berhasil melaksanakan sepuluh penerbangan pada ketinggian 5.000 kaki dengan kecepatan 150 knot tanpa masalah. Pesawat turboprop ini dilengkapi dengan sistem bahan bakar standar dan kombinasi sel bahan bakar hidrogen beserta baterai berdaya 600 kilowatt.

ZeroAvia
Pesawat berbahan bakar hidrogen / ZeroAvia

Pasca pandemi COVID-19 yang melumpuhkan industri pariwisata, industri penerbangan saat ini sudah mulai pulih. International Energy Agency (IEA) memprediksi bahwa pada tahun 2025, jumlah perjalanan udara akan melampaui tingkat sebelum pandemi.

Problemnya, pertumbuhan lalu lintas udara ini juga berarti peningkatan emisi karbon. Tahun lalu saja, industri penerbangan diperkirakan menghasilkan sekitar emisi karbon sebesar 800 ton. Untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan, IEA menekankan pentingnya menjaga tingkat emisi CO2 di bawah 1.000 ton hingga akhir dekade. Sayangnya, IEA menilai industri penerbangan saat ini masih belum menunjukkan progres yang memadai untuk mencapai tujuan tersebut.

Selama ini, para ahli meragukan kelayakan pesawat berbahan bakar hidrogen dari sisi ekonomi dan logistik karena masalah seperti kebutuhan ruang untuk tabung hidrogen dan output daya yang cenderung terbatas. Namun perusahaan seperti Universal Hydrogen dan ZeroAvia berencana untuk beralih ke hidrogen cair yang memiliki daya energi lebih tinggi, sekaligus memerlukan ruang penyimpanan yang lebih sedikit.

Melihat keterbatasan teknologi yang ada, pesawat yang sepenuhnya berjalan dengan bahan bakar hidrogen mungkin hanya terbatas untuk perjalanan jarak pendek saja, setidaknya dalam waktu dekat ini. Pun begitu, langkah ini tetap menawarkan potensi untuk mengurangi emisi penerbangan secara signifikan.

Menurut laporan terbaru dari International Council on Clean Transportation, bahkan pesawat dengan sel bahan bakar hasil retrofitting pun dapat menghasilkan sepertiga lebih sedikit emisi CO2 sepanjang masa operasionalnya dibandingkan dengan kerosin sintetis.

Sumber: Popular Science.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *